Sunday, October 9, 2016

Bank Sampah, Solusi Pengumpulan Dana Masyarakat



“Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah”
Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau sih bergaul dengan sampah, sampah kan bau dan menjijikkan. Turun derajat bu, ngurusin sampah mah.”
Tentu saja itu tafsiran bebas, walau jika mau jujur, paradigma kita terhadap sampah kan seperti itu. Sedangkannnn …….. jika para penggunjing itu tahu bahwa sampah yang dibuang sia-sia ternyata mengandung nilai yang tinggi, pastilah mereka akan terdiam.

Tulisan ini meneruskan tulisan ini, yang menyinggung tentang pembentukan bank sampah dan jutaan rupiah bisa dihimpun dalam bank sampah dengan perincian sebagai berikut:
Satu RW umumnya terdiri dari 5 – 10 RT. Satu RT terdiri dari 100 – 200 kepala keluarga (KK). Berarti 1 RW terdiri dari 500 – 1000 KK. Andaikan 500 KK (jumlah terkecil) menyetor sampah @ Rp 1.000/minggu, maka selama setahun bank sampah di RW tersebut sanggup menghimpun dana kurang lebih 52 x 500 x Rp 1.000 = Rp 26.000.000/tahun.

Apakah hanya perumahan? Tentu tidak. Justru perkantoran lebih mudah. Setiap anggota akan bertemu dalam waktu yang sama dan tempat yang sama. Hanya diperlukan kesepakatan dalam peraturan-peraturan yang disesuaikan kondisi mayoritas anggota, seperti hari penyetoran, siapa yang mengkoordinir, penentuan fee dan berbagai teknis pelaksanaan lainnya.
Sebelum mencapai kata sepakat, setiap anggota harus paham bahwa tujuan pendirian Bank Sampah bukan semata untuk menghasilkan uang tapi berkontribusi untuk mengurangi sampah yang dihasilkan di rumah tangganya sendiri.

Kesulitan pembentukan Bank Sampah sebetulnya berawal dari peraturan-peraturan yang tercantum dalam profil Bank Sampah sesuai rilis Kementerian Lingkungan Hidup. Juga sosialisasi yang cenderung kaku yang mensyaratkan adanya bangunan dan pengetahuan pengurus Bank Sampah mengenai jenis sampah anorganik yang na’udzubillahi min dzalik banyak pisan.
Karenanya dibutuhkan terobosan yang mempermudah proses tapi tetap menjalankan aktivitas yang penting, seperti pencatatan yang akurat, pembukuan keuangan yang dapat dipertanggung-jawabkan dan laporan secara periodik.
Contoh kasus di pemukiman padat dimana rumah warga saling berdempetan dan untuk beristirahat tidurpun harus bergantian dengan anggota keluarga lain. Maka syarat pengadaan bangunan Bank Sampah akan ditertawakan oleh mereka. Padahal produksi sampah mereka sangat banyak demikian juga warga yang bersedia menjadi relawan, sebelum akhirnya mereka diangkat menjadi pengurus yang mendapat fee atau honor tetap (sesuai kesepakatan).
Karena itu ada 3 hal yang tidak diwajibkan ketika membentuk Bank Sampah. Jika ada ya bagus, tapi jika tidak ada jangan menghalangi pembentukan Bank Sampah, yaitu:

  1. Tidak wajib memiliki bangunan. Pertemuan bisa dilaksanakan dimana saja, termasuk untuk menimbang dan mencatat. Fleksibel dilakukan di teras rumah, di halaman, tergantung kesepakatan.
  2. Tidak wajib memiliki pengetahuan tentang jenis sampah dan harganya. Karena bisa diserahkan ke pengepul/tukang rongsok yang akan datang dengan senang hati untuk membeli sampah anorganik yang telah terpisah. Tidak usah takut terlalu murah, pengepul juga ingin hubungan bisnis yang berkelanjutan.
  3. Tidak wajib mengolah sampah anorganik yang diterima. Karena sesudah dijual ke pengepul, Bank Sampah tidak memiliki tugas memproses sampah. Sayang banyak Bank Sampah yang sekarang beroperasi justru asyik mengolah sampah anorganik hasil setoran anggotanya, sehingga tujuan awal menyosialisasikan gerakan 3 R menjadi gagal. Jika ingin memproses sendiri sampah anorganik, silakan membentuk badan usaha baru yang merupakan sub bisnis Bank Sampah.
Dalam membentuk Bank Sampah, ada yang wajib dipenuhi:
  1. Sumber daya manusia. Yang bertugas sebagai pengurus dan anggota.
  2. Pencatatan yang transparan dan akurat. Di dalam satu buku besar Bank Sampah, pengurus mencatat seluruh setoran nasabah per waktu itu untuk kemudian dipisah sesuai kepemilikan. Setiap nasabah Bank Sampah memiliki satu buku tabungan (dapat dibeli di warung seharga Rp 500), yang dicatat jumlah setoran setiap minggunya. Diakhir periode barulah pengurus merekapitulasi dan membuat laporan.
  3. Membuat strategi meningkatkan omzet dengan menambah anggota, bukan dengan mengolah sampah. Sesuai namanya, Bank Sampah harus senantiasa bertambah anggotanya dengan menggunakan kiat-kiat pemasaran. Bedanya dengan bank konvensional yang meningkatkan nasabah untuk meningkatkan profit, Bank Sampah menambah nasabah untuk meningkatkan manfaat. Penambahan anggota bisa berasal dari teman arisan, teman komunitas tertentu, yang penting mudah mobilitasnya.
Langkah- langkah pelaksanaan
  • Sepakat memilih tiga pengurus utama.
  • Sepakat memisah sampah anorganik di rumah masing-masing, bisa dimasukkan ke kardus bekas atau kantong plastik bekas (keresek) dan diberi nama, sebelum akhirnya dibawa ke pertemuan Bank Sampah.
  • Sepakat bertemu di tempat dan waktu yang ditentukan untuk menyetor sampah anorganiknya. Sebaiknya setiap minggu sekali agar sampah anorganik tidak terlalu menggunung.
  • Sepakat dengan pengepul yang datang untuk menimbang sampah dan bersama menghitung berapa jumlah yang harus dibayar pengepul pada Bank Sampah
  • Pencatatan dengan tertib jumlah penjualan sampah anorganik pada hari itu di buku besar untuk kemudian dipindah ke buku tabungan Bank Sampah milik anggota.
  • Sepakat menyisihkan sekian persen (misalnya 10 %) untuk petugas.
  • Sepakat menyimpan uang penjualan sampah anorganik dalam rekening yang ditentukan bersama.
  • Selesai.
Lha kok cuma itu? Iya, kan sudah saya tulis di awal bahwa membentuk Bank Sampah itu amatlah mudah. Anda memiliki kelompok arisan atau pengajian atau komunitas hobi tertentu dan berminat membentuk Bank Sampah? Silakan membuat kesepakatan waktu dan tempat untuk bertemu dan mengumpulkan sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan dari masing-masing rumah tangga. Sudah hanya itu.

Kesepakatan berikutnya adalah apakah uang itu akan ditabung hingga akhir tahun dan dibagikan? Atau akan dibentuk koperasi simpan pinjam? Atau dibentuk badan usaha lainnya? Silakan saja karena itu merupakan hak setiap anggota untuk mengutarakan aspirasinya.

Akhir kata, Bank Sampah merupakan bentuk kewirausahaan sosial yang Indonesia banget. Bermodalkan jumlah penduduk yang banyak dan berniat menyelesaikan masalah yang khas, yaitu sampah. Kewirausahaan sosial seperti ini akan sulit diterapkan di negara maju, yang jumlah penduduknya sedikit dan telah tertata sistem persampahannya. Jadi, daripada kita menunggu aksi pemerintah daerah yang entah kapan akan membereskan permasalahan sampah, mengapa kita tidak bergerak mandiri?
Bukankah hunian yang nyaman karena bebas sampah akan berdampak pada diri kita juga?
Jika ada rupiah dari Bank Sampah, ah itu mah bonus. ^_^.

Kisah Sukses Bank Sampah Motekar






Tanggal 20 Januari 2016 silam, saya berkesempatan mengikuti rapat pertanggung jawaban Bank Sampah Motekar. Suatu sub divisi yang dibentuk Kendal Gede Kreatif dan berdomisili di kelurahan Sukagalih kecamatan Sukajadi Kota Bandung. Ini rapat tahunan kedua, dan berapa rupiah yang berputar dalam setahun?
Wow 51 juta rupiah!! Sangat lumayan bukan? Karena perputaran uang menandai meningkatnya perekonomian anggota. Anggota bank sampah tidak harus meminjam pada rentenir ketika membutuhkan dana untuk anggota keluarga yang sakit, biaya pendidikan, tambahan modal dagang hingga kemudahan membeli sembako. Iya, di sini anggota bisa membeli sembako dengan cara ‘bayar bulan depan’, salah satu manfaat dana bergulir yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

Kisahnya berawal ketika pada tahun 2011, saya mengajak ibu-ibu yang berdomisili di dekat lahan Bandung Berkebun, untuk membentuk komunitas. Tujuannya untuk mengaplikasikan apa yang saya ketahui mengenai pengelolaan sampah berbasis komunitas. Sekaligus ‘bertaruh’ dengan keyakinan diri bahwa jika sampah diproses dengan benar pasti akan meningkatkan perekonomian anggotanya. Sayang, keyakinan awal saya terlalu tinggi. Proses mengolah sampah organik rupanya kurang diminati anggota yang terlanjur berbudaya instan dan berparadigma: “sampah itu kotor”. Penjualan kerajinan berbahan baku kemasan bungkus kopi, sama sekali tidak menguntungkan. Besar pasak daripada tiang. Sementara kebutuhan uang kas terus mendesak, agar operasional berjalan lancar dan berkelanjutan. Hingga akhirnya di tahun 2013, kamipun mencoba membentuk bank sampah yang disesuaikan dengan situsi dan kondisi.
  
Mengapa bank sampah? Pertimbangannya, setiap keluarga pasti memproduksi sampah anorganik (plastik, kertas, kaleng), daripada dijual ke tukang rongsok atau bahkan dibuang, lebih baik dikumpukan di bank sampah. Mirip jumputan beras yang dulu dilakukan di pedesaan untuk menghimpun dana. Bedanya yang dikumpulkan di perkotaan adalah sampah bukan beras. ^_^

Secara rinci tentang pembentukan bank sampah silakan klik di sini Yang membuat saya kagum kemudian adalah betapa kreatifnya mereka. Saya hanya memberi kisi-kisi secara garis besar dan menekankan pentingnya pembukuan. Serupiahpun tidak boleh lengah. Dan hasilnya?
Di tahun 2014, bank sampah Motekar membukukan perputaran uang sebesar Rp 35 juta kemudian tahun 2015, Rp 51 juta. Jumlah yang awalnya tidak saya percayai, tapi catatan mereka yang rapi menunjukkan bukti data yang akurat. Karenanya tak berlebihan jika di bawah ini saya memberanikan diri menulis kiat sukses mengelola bank sampah. Mirip rahasia sukses para trainer yang acap mengimingi sukses dengan uang investasi jutaan rupiah itu lho. Bedanya ini sih gratis. ^_^

  • ·         Fokus pada tujuan. Apa sih tujuan membentuk bank sampah? Namanya bank ya harusnya merekrut anggota dengan berbagai macam cara bukan? Karena dari nasabahlah, uang berhasil dikumpulkan dan dikelola. Jika ada iming-iming mengolah sampah anorganik yang dikumpulkan, ya silakan membuat subdivisi baru. Tawaran ini memang menggiurkan, sekarung bekas air minum plastik akan bertambah nilainya jika telah dipisahkan berdasarkan jenis plastiknya. Harga sampah botol air mineral berbeda dengan harga tutup botolnya. Kegiatan yang memakan waktu ini bertentangan dengan misi bank sampah mengumpulkan anggota. Fokusnya sangat berbeda, jangan dicampur aduk.

  • ·         Jangan terlalu kaku mengikuti pedoman. Kementerian Lingkungan Hidup merumuskan profil Bank Sampah lengkap dengan kriteria bangunan dan kegiatannya.Waduh, jika mengikuti petunjuk tersebut maka penduduk yang tinggal di pemukiman padat akan kesulitan membentuk bank sampah. Sedangkan produksi sampah tidak mengenal tempat, dihasilkan masyarakat di pemukiman padat maupun pemukiman tertata. karena itu pembentukan dan pengelolaan bank sampah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ada kasus, satu kelurahan di utara kota Bandung meminjamkan ruangannya untuk bank sampah salah satu RWnya yang berpenghuni amat padat. Karena baru berusia setahun kegiatan bank sampah tersebut masih berjalan lancar, tapi bagaimana jika RW lain menuntut pinjaman ruangan juga? Wah, bisa-bisa pengurus menjadi resah dan keberlangsungan bank sampahpun terancam.

  • ·          Jangan terpaku ketokohan untuk memimpin bank sampah. Biasanya kordinator suatu program pemerintah adalah tokoh setempat. Atau dipilih karena senioritas. Bagus sih jika sang tokoh seorang yang moderat, tetapi menjadi sulit jika ternyata dia seorang otoriter yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Atau menetapkan aturan-aturan semaunya. Wah suasananya bisa ngga nyaman, dan akhirnya satu persatu anggota mundur.

  • ·         Pembukuan harus transparan dan akuntabel. Kunci sukses bank sampah selain penambahan jumlah anggota adalah pembukuan yang transparan dan akurat. Kapan saja anggota bisa menanyakan setiap transaksi di bukunya dan pengurus harus memberikan jawaban yang memuaskan anggota. Mirip di bank konvensional. Tidak ada nasabah yang senang jika dianggap remeh. Karena itu pengelola harus professional karena dampaknya bisa sangat positif, nasabah akan berceritera pada anggota masyarakat lain mengenai keunggulan Bank Sampah di mana dia bergabung.

  • ·         Jangan menyumbat aspirasi nasabah. Biasanya terjadi pada Bank Sampah yang dipimpin secara otoriter. Sang pemimpin lupa bahwa Bank Sampah bukan bisnis murni, ini adalah kewirausahaan sosial di mana berlaku dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Jadi pemimpin yang otoriter kelaut aja deh ^_^

  • ·         Nasabah harus merasakan manfaat Bank Sampah. Sebetulnya tanpa menjadi anggota Bank Sampah, warga bisa menjual sampah anorganiknya kepada siapapun, di mana pun dan kapanpun. Hanya dengan mengetahui manfaat menjadi anggota bank sampah, warga masyarakat mau bergabung. Keuntungan menjadi anggota bank sampah inilah yang harus selalu digali dan dikembangkan. Contohnya Komunitas Kendal Gede Kreatif, selain memiliki bank sampah Motekar, juga membentuk koperasi simpan pinjam dan pembelian sembako murah. Kebutuhan warga masyarakat harus dipahami sebelum membentuk bank sampah. Beda wilayah, beda kebutuhannya.

  • ·         Aktif menambah anggota. Apa jadinya jika suatu bank sampah merasa eksklusif dan enggan menambah anggota? Sementara itu, tidak ada jaminan pengurus yang sekarang aktif akan terus berada di lokasi yang sama. Bagaimana jika pindah rumah? Bagaimana jika meninggal dunia? Bisa terganggu kan operasional Bank Sampah? Bahkan terancam bubar jika pengurus lainnya merasa cape dan bosan. Perekrutan anggota akan membantu regenerasi juga menambah omzet bank sampah yang jika dikelola dalam koperasi maka akan memberikan faedah lebih banyak. Dalam banyak pertemuan, banyak sekali yang menanyakan tentang bank sampah. Bukti bahwa anggota masyarakat mulai peduli akan keberadaan bank sampah sehingga keberadaan bank sampah sebagai unit usaha terkecil dalam masyarakat seharusnya bisa membantu pemerintah menyelesaikan masalah sampah. Sayang terkendala minimnya sosialisasi, ditambah taburan berita bahwa dengan menabung di bank sampah bisa berobat gratis (Yakin? Hingga sakit kanker atau jantung yang menghabiskan jutaan rupiah? Jika hanya sakit flu, bukankah ada fasilitas BPJS yang gratis bagi kelompok tidak mampu?) Yang terpenting, keinginan anggota dengan terbentuknya bank sampah harus terpenuhi sehingga uang yang terkumpul di bank sampah akan tepat peruntukannya. Jika mayoritas warga butuh modal usaha tapi malah diberi fasilitas berobat maka bisa ditebak apa yang akan terjadi. Operasional bank sampah harus berkelanjutan tanpa bantuan, jika ada pinjaman modal, mereka harus mampu mengembalikannya.

·          
·          

Wednesday, September 16, 2015

Anazkia, Si Upik Abu Abad Digital



Kawula blogger umumnya mengenal Anazkia, buruh migran yang aktif menulis di beberapa blog. Gadis ayu, santun dan terkesan pemalu ini juga menjadi Koordinator Blogger Hibah buku di sela-sela kesibukannya, sehingga tak heran banyak penghargaan diraihnya seperti Srikandi Favorit KEB 2013, Perempuan Inspiratif Nova 2014 dan masih banyak lagi.

Sepintas, apa sih hebatnya Anaz? Kok mendapat penghargaan banyak sekali?

Karena dia Buruh Migran? Oh, banyak sekali buruh migran yang berhasil. Tidak hanya puluhan tapi ratusan orang buruh migran telah berhasil dengan berbagai versi.

Karena dia blogger? Wah apalagi ini, banyak blogger perempuan yang memiliki anak 3 orang anak atau lebih. Tidak memiliki asisten rumah tangga tapi tetap bisa rajin menulis diblog dan berwirausaha juga. Tapi kok mereka ngga terpilih sebagai perempuan inspiratif?

Atau karena dia koordinator Blogger Hibah Buku? Aduh, bukankah banyak komunitas melakukan even hibah buku dan hibah-hibah lainnya? Apa spesialnya?

Jika menyimak kisah Anazkia, ternyata dia memang lebih dari pantas untuk mendapat penghargaan tersebut, bahkan penghargaan – penghargaan lainnya. Terlahir dengan nama Eli Yuliana pada 13 Agustus 1982, Anaz kecil dibesarkan di kampung Karangsari Pulosari, Pemalang – Jateng oleh nenek dan budenya. Sejak kecil terbiasa membantu tetangga untuk mendapat uang jajan, Anazpun berketetapan hati menekuni profesi sebagai pembantu rumah tangga alias Upik Abu agar bisa menyelesaikan sekolah.

Keputusan menjadi Upik Abu nampaknya sederhana, dilakukan berjuta perempuan Indonesia yang tidak memiliki skill. Yang membedakan, Anaz memilih menjadi Upik Abu agar bisa meneruskan sekolah. Tidak sekedar untuk memperoleh penghasilan.

Menurut data BPS ada sekitar 50 % penduduk Indonesia yang hanya lulusan SD. Artinya mereka tidak bisa duduk manis dan menerima begitu banyak fasilitas sekolah berkat orangtua maupun pemerintah. Mereka punya pilihan menerima nasib dengan alasan yang teramat klise : ”hanya lulus SD karena tidak ada biaya”. Atau mencari peluang penghasilan dengan bekerja secara halal agar bisa bersekolah setinggi mungkin.
Anaz memilih cara kedua, memilih menjadi Upik Abu hingga menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas (SMA). Lulus SMA, Anaz merasa gamang, dunia perkuliahan paska krisis moneter memang tidak ramah pada wong cilik. Butuh biaya puluhan juta rupiah. Konon ada beasiswa dari pemerintah dan beberapa CSR perusahaan. Tapi bagaimana mengaksesnya? Hanya segelintir orang yang melek teknologi informasi yang tahu.

Karena itu Anaz menyanggupi ketika seorang tetangganya memberi penawaran bekerja di Malaysia, lagi-lagi sebagai Upik Abu. Anaz mengakui bahwa awalnya gaji besarlah yang membuatnya tergiur. Gaji Rp 1 juta memang besar nilainya bagi lulusan SMA, walau harus berjauhan dengan keluarga dan teman-teman bermain.

Tapi seperti yang diakui Anaz, “… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....” (al-An’aam: 59). Setiap pilihan hidup memiliki makna. Berkat kenekatannya menjadi Upik Abu di Malaysia, Anaz menjadi melek teknologi informasi dan belajar membuat blog.

Anaz beruntung memiliki majikan yang sangat baik, sepasang suami istri warga Malaysia. Disela kesibukannya, Anaz kerap memperhatikan anak bungsu majikannya chatting dengan kawannya dari berbagai penjuru dunia. Kegiatan yang mengasyikkan menurutnya, bagaimana seseorang bisa berhubungan dengan orang banyak tanpa harus keluar rumah. Hanya dengan bantuan komputer dan internet, bisa berbagi kisah , mencari info sekaligus berbagi info.

Sayang, walaupun diizinkan menggunakan komputer dan internet, Anaz gaptek alias gagap teknologi. Berulangkali Anez mencoba mengakses email yang dibuatkan seorang temannya di tanah air. Berulangkali pula Anaz gagal. Hingga akhirnya sang anak majikan kasihan melihat kegigihan Anaz dan membantunya membuatkan email. Langkah awal Anaz menuju dunia online.

Dunia maya bak dunia bermata dua. Bisa berdampak negatif tapi bisa sangat positif bagi mereka yang haus ilmu seperti Anaz. Beragam ilmu terdapat disana, termasuk mata kuliah kehidupan yang di dapat Anaz dari blog kawan-kawannya. Dilain pihak, Anazpun berbagi pengetahuan/ pengalaman yang dimilikinya dengan menuliskannya di blog.

Ya, akhirnya Anaz tidak hanya melahap ilmu dari blog orang lain, tapi dia juga menulis kisah kisah inspiratif di blog yang dimilikinya, mulai dari multiply, blogspot, blogdetik hingga Kompasiana. Tak heran Anaz berhasil meraih penghargaan Srikandi Blogger Favorit 2013, suatu ajang apresiasi tertinggi yang diselenggarakan Kelompok Emak Blogger (KEB) bagi kaum perempuan yang konsisten berbagi tulisan yang bermanfaat.

Sesungguhnya penghargaan bukanlah tujuan akhir Anaz, dia menulis di blog karena merasakan manfaatnya. Melalui ngeblog, Anaz si Upik Abu memiliki banyak teman offline dan online. Bahkan pertemanannya di media sosial facebook hampir tak terbendung. Melalui ngeblog jugalah, beberapa kali Anaz berkolaborasi dengan sesama blogger menelurkan buku antologi. Dan puncaknya, melalui dunia ngeblog, Anaz terjun dalam kegiatan blogger hibah buku.

Berbeda dengan kegiatan ngeblog yang saling memberi manfaat, kegiatan hibah buku menuntut seseorang harus ‘selesai”dengan dirinya agar berhasil menjalankan misi sosial. Tidak boleh ada pamrih, karena tidak ada keuntungan rupiah disini. Sehingga patut diacungi jempol kiprah si Upik Abu yang tidak berkelimpahan materi tapi mampu berbagi dengan sesamanya. Berikut penuturan Anaz:

Oktober 2011, salah seorang teman blogger menjadi pengajar muda dan mendapatkan tugas di Karas Fakfak Papua Barat. Ia sering menulis pengalaman-pengalamannya di blog, dari minimnya fasilitas belajar sampai tingginya minat belajar anak-anak. Keinginan dan ketersediaan bahan yang tidak seimbang untuk anak-anak itulah akhirnya saya berinisiatif untuk kembali “menghidupkan” gerakan sosial dunia maya Blogger Hibah Sejuta Buku (BHSB).


Atas izin dan dukungan dari teman-teman blogger bertuah Pekanbaru, saya menjadi koordinator. Saat itu saya masih di Malaysia, jadi kegiatan koordinasi dilakukan sepenuhnya secara online. Biasanya bersama dengan teman-teman kami akan menentukan tempat terlebih dahulu, baru kemudian kami membuat tulisan di blog, mengajak teman-teman blogger dan netter untuk terlibat menyumbangkan buku ke tujuan. Saat itu fokus kami adalah tempat-tempat terpencil di pulau Jawa, meski masalah kami selanjutnya adalah terbenturnya biaya. Alhamdulilah, selama saya di Malaysia beberapa tempat sudah kami kirimi buku, Papua, Aceh dan kalimantan.


Tahun 2012 ketika saya pulang ke Indonesia, kegiatan tak melulu hanya sebatas mengumpulkan buku dan mengirimkannya, tapi juga datang ke tempat tujuan. Ini dikarenakan saya bertemu dengan banyak teman-teman dengan tujuan yang sama, berbagi buku menebar ilmu. Beberapa tempat yang kami kunjungi seperti, Pulau Tegal di Lampung, Taman Baca Rumah pelangi di Bandung, SDN Kebonrejo II Kediri, Ujung Kulon Banten dan Dusun Tumpakdoro di Kediri. Kendari, Makassar dan Sumba pun menjadi tujuan pengiriman buku. Selain Blogger Hibah Sejuta Buku, saya bersama dengan beberapa teman pun membuat Arisan Buku Blogger, di mana uang yang kami kumpulkan setiap bulannya dibelikan buku kemudian dikirim ke wilayah di sekitar pulau Jawa.




Hebat bukan? Sesuai prinsip hidupnya: Tak perlu menunggu kaya untuk membantu sesama”, Anaz berkiprah tanpa mengenal lelah dalam berbagai kegiatan volunteer. Sering Anaz tak memiliki uang untuk membiayai perjalanannya menuju even yang digagasnya. Tapi berkat niat tulus, semua berjalan lancar. Karena Tuhan memiliki caraNya sendiri untuk membiayai kegiatan-kegiatan kemanusiaan.

Kisah Anaz, kisah si Upik Abu yang hidup dalam keterbatasan materi. Walau era abu perapian telah berakhir, pekerjaan seorang Upik Abu sama beratnya. Bedanya si Upik Abu dalam kisah dongeng berakhir bahagia dengan sang Pangeran. Sedangkan kisah Anaz, si Upik Abu dalam era digital berbahagia karena telah berhasil “menaklukan dirinya sendiri” sehingga mampu membiayai sekolahnya, menuliskan kisah inspiratif dan bermanfaat , serta berbagi dunia penuh cakrawala melalui hibah buku.

Andaikan setiap anak muda Indonesia tidak menyerah dengan ketiadaan biaya, tidak menyerah pada ketidak mampuan tetapi gigih berjuang untuk menggapai pendidikan yang lebih tinggi dan untuk berbagi pada sesama. Maka bonus demografi bisa menjadi berkah melimpah bagi Indonesia, alih-alih menggerogoti kinerja pemerintah karena hanya menjadi masyarakat konsumtif.

Tidak usah berkeluh kesah atas nasib yang diterima, tidak usah menyalahkan orang lain atau pemerintah. Karena sukses tidaknya seseorang, hanya dia sendiri yang menentukan. Dan sukses tidak terbingkai dalam bentuk piagam ijazah atau sertifikat. Sukses adalah jika dia bermanfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya.


Sunday, August 2, 2015

Mother Teresa, Sang CEO







“Mother Teresa: The Saint”. Judul tulisan majalah Time edisi Senin 14 Juni tahun 1999. Sedangkan Bharati Mukherjee menyebut Mother Teresa termasuk 100 tokoh paling berpengaruh yang melahirkan peradaban dunia abad 20.

Terlahir dengan nama Gonxha Agnes pada 26 Agustus tahun 1910 di Skopje, Albania, Mother Teresa adalah contoh, karya dan jembatan lintas agama, suku serta golongan di India. (Time, Juni 1999). Ayahnya Nikole Bojaxhiu meninggal kala Gonxha Agnes berusia 6 tahun sehingga keuangan keluarganya sangat rapuh.

Diusianya yang ke - 18, Gonxha meninggalkan kampung halamannya, Albania menuju biara Suster Loreyo di Irlandia pada September 1928. Di biara ini, ia mendapat nama baru: Suster Maria Teresa. Pada 6 Januari 1929, Suster Teresa mendapat tugas ke Calcutta untuk melayani kaum papa, orang kusta dan orang orang terlantar di India dan dunia. 

Mother Teresa memulai misi karyanya untuk orang miskin pada tahun 1948. Ia mendapat pendidikan dasar medis di Holy Family Hospital, Patna dan bekerja di kawasan kumuh. (Clucas, 1988:39) Mother Teresa membangun sekolah di Motijhil, Kalkuta, India. (William, 2002 : 57) 

Dalam buku hariannya, Mother Teresa menulis ikhwal ketiadaan pendapatan, tidak ada pasokan dana – makanan. Tidak ada tempat meminta membuatnya merasa ragu dan ingin kembali ke kehidupan awal:
Our Lord wants me to be a free nun covered with the poverty of the cross. Today, I learned a good lesson. The poverty of the poor must be so hard for them. While looking for a home I walked and walked till my arms and legs ached. I thought how much they must ache in body   and soul, looking for a home, food and health.” (Spink, 1997:37)

Pada 7 Oktober 1950 Mother Teresa mendapat izin dari Vatican untuk mendirikan mendirikan kongregasi Missionary of Charity. (Williams, 2002:62). Yang memiliki misi melayani kaum papa, tuna wisma, tuna sandang, pasien kusta, orang buta, orang lumpuh dan orang – orang terlantar yang tidak dipedulikan masyarakat.

Tahun 2007, kongregasi ini beranggotaka  450 bruder dan 5.000 suster yang mengelola 600 karya misi, sekolah dan penampungan di 120 negara. (Poplin, 2011:97). Pada tahun 2012 tercatat ada sebanyak 4500 suster Missionary of Charity berkarya di 133 negara. 

Kongregasi ini membangun rumah dan penampungan pasien HIV/AIDS, kusta dan TBC, klinik keliling dan dispenser, program layanan anak dan keluarga, melayani sekolah dan kaum papa. Anggota kongregasi mengikuti 4 kaul utama yaitu kesucian, kemiskinan, ketaatan dan memberi “ wholehearted free service to the poorest of the poor (Muggridge, 1971: 105-113).

Ruma Bose, penulis Mother Teresa, CEO (2011) menyebut sejumlah karakter Mother Teresa sebagai CEO. “Mother Teresa is one of those humans who had a simple dream that profoundly changed our world. Her dream was helping the poorest of the poor. She began with that vision, then developed a clear plan for making it come true!”

Tahun 2003, Mother Teresa mendapat penghargaan Nobel Perdamaian dan beata “blessed Teresa of Calcutta”.
Untuk memperingati 100 tahun usia Mother Teresa, pada 28 Agustus 2010, pemerintah India merilis uang koin khusus 5 rupee, koin yang pertama kali digunakan Mother Teresa untuk melayani kaum papa dan orang kusta di India, akhir tahun 1940 (Times of India, 2010)


Pada tanggal 13 Maret 1997, memberikan jabatannya sebagai kepala ordo kepada Suster Nirmala Joshi. Ia meninggal pada tanggal 5 September 1997.
Mother  Teresa dibaringkan dalam ketenangan di Gereja St. Thomas, Calcutta selama satu minggu sebelum pemakamannya pada September 1997. Ia diberi pemakaman kenegaraan oleh pemerintah India sebagai penghargaan  atas jasanya kepada kaum miskin dari semua agama di India.[ Kematiannya ditangisi baik oleh kelompok  masyarakat sekuler dan religius. 
Dalam pidato penghargaannya , Nawaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan mengatakan bahwa Mother Teresa adalah "seorang individu langka dan unik yang tinggal lama untuk tujuan yang lebih tinggi. Pengabdian seumur hidupnya untuk merawat orang miskin, orang sakit, dan kurang beruntung merupakan salah satu contoh pelayanan tertinggi untuk umat manusia. Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Javier Perez de Cuellar mengatakan: "Ia adalah Pemersatu Bangsa. Ia adalah perdamaian di dunia ini.

“But more than anything else, put God’s work first and do what he wants. Then the other thins will be yours as well.”

Disadur dari (True Business -  Servas Pandur) dan