Horeeeee........ Masuk TIPI!



1330553740324056630
ketawa-ketiwi sebelum shooting (dok.Maria Hardayanto)
Banyaknya stasiun televisi dan gencarnya  isu penghijauan ternyata memudahkan suatu kegiatan lingkungan diekspos. Terbukti dalam kurun waktu kurang dari dua bulan penulis berkesempatan  melihat dan terlibat langsung proses produksi tayangan televisi. Sayangnya kedua stasiun televisi tersebut  tidak memberikan tayangan yang informatif tetapi menyuguhkan tayangan yang “diinginkan” pemirsa.
Pengalaman pertama terjadi tanggal 21 Januari 2012 ketika mendampingi 2 komunitas untuk bersilaturahmi dengan Wakil Walikota Bandung, Ayi Vivananda. Ternyata selain mendapat bibit sayuran, polybag, tambahan ilmu tentang Urban Farming, mereka mendapat “bonus” menjadi bagian dari tayangan TVRI  tentang seorang Wakil Walikota yang berkebun kota (terjemahan bebas dari Urban Farming ^_^).
Bahkan salah seorang anggota komunitas, Ibu Dian mendapat kesempatanwawancara untuk mengetahui sejauh mana manfaat berkebun kota. Dengan lugu dia mengatakan sudah berhasil menjual seledri senilai Rp 160 ribu dan bawang daun Rp 100 ribu. Pewawancara sama sekali tidak menanyakan berapa jumlah uang yang dikorbankan untuk bisa menjual komoditas tersebut.
Padahal jumlahnya tidak main-main. Kebun kota mereka menghabiskan  satu truk tanah Lembang senilai Rp 500 ribu, pupuk kandang senilai Rp 100 ribu, pagar bambu yang tak ternilai karena selain membeli bilah bambu, komunitas tersebut juga mengeluarkan sejumlah uang untuk memberi konsumsi masyarakat yang bekerja bakti untuk mengerjakan pagar, mengolah tanah dan membuat tempat sampah.
Tetapi biaya terbesar adalah biaya tenaga kerja yang “terlupa” untuk dikalkulasi. Ibu Dian dan kawan-kawan turun ke sungai sedalam kurang lebih 3 meter untuk mengambil tanah hasil sedimentasi sungai Cidurian karena lokasi kebun kotanya berdampingan dengan sungai. Sungguh pengorbanan luar biasa untuk memenuhi kebutuhan tanah kebun kotanya, para ibu harus mengerjakan tugas seberat itu. Pengorbanan yang dilakukan demi memiliki kebun di tengah kota.
Kali kedua adalah ketika penulis bertemu dengan Ridwan Kamil dalam Festival Makanan Keuken dan mendapat tawaran untuk mengekspos kegiatan Kebun Kota di bantaran sungai Cidurian untuk tayangan Kompas TV. Tawaran yang akhirnya penulis minta untuk ditunda karena kebun kota sungai Cidurian belum mempunyai komposter komunal. Perizinan dari wargalah yang sulit. Karena sesuatu yang baru sepertikomposter komunal tidak dapat diterima begitu saja. Takut menjadi tempat sampah umum, takut mendapat penolakan warga, hingga ketakutan tidak diizinkan pemilik lahan yang kebetulan berdomisili di luar kota. Padahal adanya komposter komunal akan menjadi nilai lebih yang menginspirasi pemirsa televisi dalam mengolah sampah dalam suatu pemukiman padat.
Akhirnya Ridwan Kamil memutuskan pengambilan gambar tanggal 29 Februari 2012 di daerah Sukamulya. Tempat awal mula Bandung berkebun memiliki kebun kotanya. Di belakang area aktivitas Bandung Berkebun, penulis mendampingi komunitas @Sukamulyaindah. Suatu kelompok ibu-ibu di pemukiman padat yang berkegiatan tiap minggu untuk berkebun, membuat kerajinan dan membuat pangan non beras. Merekalah yang dikerahkan untuk berkebun bersama anak-anak muda yang tergabung dalam Bandung Berkebun.
Semenjak pagi pukul 08.00, ibu-ibu tersebut berjibaku menyulap kebun kota Bandung Berkebun yang sudah lama terlantar. Maklumlah aktivitas Bandung Berkebun cukup padat dan mengumpulkan sukarelawan bukan perkara mudah. Hingga akhirnya sekitar pukul 11.00, area kebun kota sudah “layak tampil” bersamaan dengan datangnya crewSTV-Kompas TV.
Sesudah pembukaan dan cerita tentang Bandung Berkebun, dimana penulis dishooting sedang membawa bibit dan menanamnya (tangannya doang lho…….kecuali ketika Ridwan Kamil yang sedang bertanam ^_^), akhirnya adegan Ridwan Kamil mendatangi kami, ibu-ibu yang berasal dari daerah setempat dan  berkolaborasi dengan Bandung Berkebun.
Topik wawancarapun sama, kami digiring pada hasil yang diharapkan berupa uang. Padahal panen berlimpah yang pernah dinikmati Bandung Berkebun tidak laku dijual di warung manapun. Hingga akhirnya dibagi-bagi pada yang membutuhkannya.
Ada pola pikir keliru yang selama ini dianut masyarakat/pembuat kebijakan/tokoh masyarakat yang memiliki ide. Bahwa hasil proses kegiatan lingkungan hidup haruslahuang atau pastilah uang.  Kegiatan kebun kota adalah kegiatan mudah yang bertujuan menggunakan seluas mungkin lahan menganggur dengan dana minim. Padahal:
  • Pemilik lahan menganggur entah dimana keberadaannya, bahkan ada yang diluar negeri. Sehingga banyak penggarap lahan menanami tanaman rendah resiko seperti singkong, jagung dan pisang dengan pertimbangan sewaktu-waktu pemilik datang (banyak terjadi pemilik lahan dan penggarap lahan tidak pernah saling bertemu apalagi berkenalan) maka penggarap bisa merelakan dengan ikhlas karena tidak mengeluarkan banyak uang.

  • Kegiatan kebun kota tidak bisa dianggap main-main. Perlu  perencanaan, kalkulasi cermat, pengelolaan dan target jangka panjang karena menyangkut biaya yang  cukup besar. Untuk membuka lahan di Sukamulya Indah seluas kurang lebih 500 meter, Bandung Berkebun mengeluarkan dana tak kurang dari Rp 5 juta. Belum terhitung biaya pemeliharaan, biaya panen dan biaya transportasi. Urusan menjual hasil panen tidak bisa disepelekan dengan “jual aja ke pasar”. Maaf, pasar mempunyai hitungan pasokannya sendiri. Dan biaya transportasi ke pasar tidak murah.

  • Kegiatan kebun kota harus memiliki jaringan pemasaran. Ada banyak artikel yang bercerita tentang pemanfaatan lahan tidur yang menghasilkan profit berupa uang. Sayangnya tanpa menceritakan titik awal sang petani kota merintis bertanam dan membuka jejaring. Dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan tentu saja uang. Hal tersebut tidak dapat dilakukan ibu-ibu rumah tangga yang harus mengurusi anaknya sekolah, memasak, dan banyak pekerjaan rumah tangga lain. Kontinuitas pekerjaan kebun kota tidak dapat diserahkan kepadanya .

  • Kegiatan kebun kota harus dilakukan serius untuk mendatangkan profit berupa uang. Karena itu harus dimiliki seorang penanggungjawab saja. Tidak bisa dikerjakan beramai-ramai. Siapapun pelakunya, anak muda maupun ibu rumah tangga. Kegiatan kebun kota tidak bisa didatangi apabila ingin dan ditinggalkan ketika malas.
Tetapi secara komunitas, kegiatan berkebun dalam kota mempunyai manfaat positif yang non profit yaitu :
  • Memisah sampah organik dan nonorganik. Kebutuhan akan kompos, “memaksa” pelaku kebun kota untuk memisah sampah organiknya dan memasukkan ke komposter. Padahal jumlah sampah organik mencapai sekitar 70 % dari total sampah rumahtangga. Ini berarti secara tidak langsung mengurangi produksi sampah kota dan penumpukkan sampah di TPS dan pengirimannya ke TPA yang membutuhkan biaya tinggi.

  • Lingkungan rumah pelaku kebun kota akan nyaman karena bersih dari sampah bergelantungan yang bau dan kotor. Lingkungan rumah menjadi green karena penghijauan yang berasal dari tanaman hias, sayuran dan tanaman produktif lainnya.

  • Pelaku kebun kota dapat menghemat biaya belanja sayur. Jadi dia tidak menerima uang secara langsung tapi berupa penghematan “uang dapur”. Hasil akhirnya sama saja bukan?

  • Pelaku kebun kota akan mengonsumsi sayuran sehat. Karena sayurannya dijamin tidak disemprot pestisida yang selangit harganya dan dibeli petani demi penampilan sayuran yang mulus dan tidak bolong-bolong. Rasa sayuran organik hasil kebun sendiri juga lebih renyah dan tidak mudah busuk.
Jelaslah ada mispersepsi tentang profit yang dinikmati pelaku kebun kota ( urban farming). Sama seperti halnya produsen yang berpikir bahwa ibu-ibu pengelola limbah plastik mendapat keuntungan besar. Padahal nyatanya tidak seperti itu.
Pelaku kebun kota menikmati keuntungan yang lebih dari sekedar uang. Yaitu hidup sehat karena mengonsumsi sayuran sehat. Lingkungannya sehat karena sampahnya terpilah dan menghasilkan kompos. Secara tidak langsung juga berdampak pada anak-anak karena mereka melihat proses menanam mulai dari biji, tumbuh, panen dan dimasak oleh sang ibu. Dia mempelajari bahwa hidup berkualitas memerlukan proses, tidak instant seperti sebelumnya mereka kenal.
Tulisan ini mungkin  tidak berkenan bagi beberapa orang. Tapi biarlah, yang penting udah masuk tipi , walau tangannya doang …….. disiarkan Kompas TV jam 11.00 pagi hari Kamis, 1 Maret  2012. Sayangnya, dipastikan  penulis  tidak bisa menonton (tangan ….. ^_^), karena sudah berjanji dengan TVRI yang akan meliput  Woman On Go Green Activity-perspektif gender dlm isue go green. Semoga bisa bernegosiasi tentang manfaat sesungguhnya aktivitas kebun kota ini dan tidak selalu mengiming-imingi penontonnya dengan omzet yang besar. Semoga …….  ^_^
**Maria Hardayanto**
133055138647165612
before (kiri) dan after(kanan) dibersihkan dari rumput


Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........