Mendadak Gagap Kamera


1331311330337548413
ibu-ibu bantaran sungai Cidurian in action (dok. Maria Hardayanto)
Menjadi sorotan kamera? Bukan itu awal tujuan berkecimpung di tengah masyarakat dan mengajak penerapan langsung pelestarian lingkungan hidup. Tetapi ibu Rita Mariorita dan ibu Gita Djoemantoro dari TVRI rupanya berpendapat lain. Melihat banyaknya upload foto kegiatan di facebook, maka penulis mendapat kesempatan tampil pada acara “Pelangi Nusantara, 10 Maret 2012 dengan topik: Woman On Go Green Activity-perspektif gender dlm isue go green.

Maka idepun langsung bermunculan. Mumpung tampil apa salahnya mengemukakan nasib ibu-ibu dan penyandang disabilitas yang mengerjakan kerajinan bekas kemasan plastik tapi diabaikan oleh pengusaha produk kemasan plastik tersebut? Karena menurut Undang-Undang Pengelolaan Sampah nomor 18 tahun 2008, produsenlah yang harus bertanggungjawab. Kalaupun tidak mau bertanggung jawab tolonglah untuk peduli pada nasib para pengolah limbah kemasan. Baik ibu-ibu pembuatan kerajinan yang berpenghasilan tidak menentu maupun Usaha Kecil Mikro (UKM) yang tidak bankable.

Juga bahwa masalah sampah adalah masalah di hulu bukan di hilir. Karena mirip masalah banjir yang penanganannya tidak terkoordinir dan tidak serius ditangani sehingga banjir akan tetap menggenangi kota-kota besar. Demikian pula sampah yang memenuhi sudut-sudut kota. Seperti gambar di bawah ini.
1331311513546174681
Sampah beradu tempat dengan tempat parkir dan warga yang lalu lalang (dok. Supardiyono Sobirin)
Masalah sampah juga masalah lifestyle, masalah gaya hidup. Yang berasal dari pemikiran: “asalkan sampah keluar dari rumah/daerahku” maka sampahpun dibuang jauh-jauh dari rumah, bisa ke TPS, ke sungai atau dibuang begitu saja di jalan umum.

Jalan keluarnya adalah memisah sampah di mulai dari rumah masing-masing (hulu), selebihnya apakah mau mengolah sendiri sampah tersebut ataukah mengolahnya di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). TPST dibangun berdasarkan kesepakatan warga, aparat pemerintah setempat dan petugas kebersihan yang digaji untuk mengolahnya. Hasilnya berupa kompos dapat dipergunakan untuk urban farming.Hasil pemisahan sampah anorganik dapat dijual untuk pendapatan lain dari petugas kebersihan.

Karena itu dalam rentang waktu 3 hari, penulis dan komunitas Engkang-engkang, suatu komunitas yang penulis dampingi dan berdomisili di pemukiman padat penduduk,  berjibaku agar bantaran sungai dan rumah penulis “layak tampil”. Maklum keasyikkan bereksperimen membuat pekarangan rumah tak ubahnya hutan belantara. Area bantaran sungai tempat berurban farming baru selesai panen sehingga tidak serimbun biasanya. Bahkan beberapa tanaman sedang diuji coba diambil benihnya. Belum lagi seperti umumnya aliran sungai, hari ini dibersihkan ……. eh esok harinya dari arah hulu  ”para sampah berenang-renang” sepanjang aliran sungai.

Hasil akhirnya tidak maksimal, tapi ya sudahlah…….karena memang bukan rumah artis yang  harus tampil sempurna. Bantaran sungaipun bukan lokasi wisata mancanegara sehingga  tampil seadanya saja. Polos tanpa make-up.

Yang penting isi liputan nanti harus mampu membawa pesan bahwa  pengelolaan sampah bisa dan harus dilakukan dari rumah bahkan ditularkan ke masyarakat bantaran sungai yang membawa efek berantai.

Sayang, semua teks yang tersimpan rapi dalam pikiran hilang lenyap. Hilang sudah kata-kata bahwa masyarakat sebetulnya bukan tidak mau memelihara lingkungan tetapi mereka tidak tahu caranya. Serbuan urbanisasi membuat masyarakat gagap menyikapi.

Sebagai contoh sampah anorganik seperti bekas kemasan plastik. Masyarakat menengah keatas tidak bisa menolak produk berkemasan sachet karena membantu kehidupan penuh tekanan mobilitas tinggi. Tetapi mereka juga tahu, menyampur kemasan plastik dan sampah organik akan menimbulkan masalah berupa bau dan racun. Solusinya adalah pemisahan sampah. Tapi siapa yang mau peduli? Siapa yang akan mengantar bekas kemasan plastik ini ke rumah ibu-ibu yang mau mengerjakannya sebagai kerajinan? Walaupun hasil kerajinan tidak menjanjikan profit dan produsen masih abai pada tanggungjawabnya.

Itulah yang ingin penulis katakan dalam adegan membawa karung plastik berisi bekas kemasan plastik. Tetapi sayang ….. semua kata-kata itu buyar. Mungkin karena harus diucapkan dalam sekian detik padahal apabila sedang presentasi bisa memakan waktu puluhan menit.

Demikian pula penjelasan eksperimen sampah organik dalam lubang resapan biopori (LRB),  komposter komunal, kotak-kotak berisi cacing lumbricus (yang ternyata habis diambil anak-anak komunitas Engkang-engkang untuk memancing), dan kolam lele (yang dengan lahap memakan setiap sampah organik).

Hilang sudah kata-kata bahwa ada banyak alternative pengelolaan sampah organik, alih-alih dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang mengakibatkan biaya tinggi dan menimbulkan kotor dan bau di tempat pembuangan sampah sementara (TPS).

Terakhir adalah alasan penulis berkecimpung langsung dengan masyarakat. Harusnya yang diketengahkan adalah contoh pemisahan sampah dimana sampah anorganik yang ditimbun berbulan-bulan di depan rumahpun tidak apa-apa. Asalkan benar-benar sudah steril dari sampah organik sehingga masyarakat tidak usah takut terkena lautan sampah kota dan Dinas Kebersihanpun lebih ringan dalam bekerja.

Sayang dengan konyolnya penulis malah mengatakan terimakasih pada YPBB, Konous, DPKLTS dan pak Sobirin serta pak Solihin GP yang sudah membimbing. Ya, ampun……. memangnya penganugerahan piala Oscar?

Ya sudahlah…..memang bukan selebriti. Bukan narasumber yang lalu lalang didepan layar televisi. Terimakasih TVRI Nasional, terimakasih ibu Rita Mariorita, ibu Gita Djoemantoro. Ibu Wieni dan ibu  Ria serta segenap kru yang sudah sabar menghadapi penulis yang gagap kamera.

 (acara Pelangi Nusantara, tanggal 10 Maret 2012 pukul 07.00)
**Maria G. Soemitro**
1331314727292069146
dok. Maria Hardayanto
133131485220751242
Berbagai alternatif pengolahan sampah organik (dok. Maria Hardayanto)
13313151642140197522
dok. Maria Hardayanto


Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........