One Day No Rice, Niat Ga Sih?




Banyak seremonial diadakan menyambut Hari Pangan Sedunia , Minggu, 16 Oktober 2011. Sejauh mana keefektifannya dan mampukah menjangkau masyarakat yang terlanjur apatis? Masyarakat berpendapat urusan pangan adalah kewajiban pemerintah. Pendapat yang tidak sepenuhnya salah karena kewajiban pemerintahlah untuk menjamin ketersediaan 9 bahan pokok (sembako) dimana beras menempati urutan pertama. Termasuk mengimpor beras sebanyak 1,6 juta ton tahun ini.

Konsumsi beras di Indonesia memang tertinggi di dunia,  mencapai 113,48 kg per kapita/tahun pada tahun 2011  turun setelah sebelumnya mencapai 139,15 kg /kapita/tahun. Tetapi hal tersebut  lebih disebabkan perubahan gaya hidup pada kelompok masyarakat menengah keatas yang mengonsumsi beranekaragam pangan.
Tetap tinggi bila dibandingkan rata-rata konsumsi beras dunia yaitu 60 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi Malaysia 80 kg/kapita/tahun, Thailand 70 kg/kapita/tahun dan Jepang 58 kg/kapita/tahun

Pada Hari Pangan Sedunia tahun lalu pemerintah Indonesia mencanangkan  One Day No Rice dengan tujuan menekan konsumsi beras karena seperti yang dikemukakan Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi apabila masyarakat Indonesia mampu mengonsumsi pangan selain beras sehari dalam sebulan maka akan ada penghematan beras sebanyak 90.000 ton atau 1,1 juta ton/tahun atau setara dengan Rp 6 triliun.

Kampanye One Day No Rice ternyata sepi tidak ada sambutan dari manapun hingga pada pertengahan 2011 Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengajak masyarakat Jabar mengganti makanan pokoknya pada setiap hari Rabu. Maklumlah populasi warga Jabar  menempati jumlah 20 % dari total rakyat Indonesia dan berdasarkan data BPS warga Jabar mengonsumsi beras  105 kg per kapita pertahun! Gerakan One Day No Rice akan berdampak signifikan karena konsumsi satu hari setara 3.000 hektar sawah sehingga pelaksanaan dalam satu bulan akan menghemat hasil panen dari 12.000 hektar sawah.


Ajakan One Day No Rice sendiri sebenarnya sesuai dengan amanah Pepres Nomor 22 tahun 2009 tentang Diversifikasi Pangan dan Pergub Jabar Nomor 60 tahun 2010 tentang Percepatan Pangan Sumber Daya Lokal.

Tentu saja kampanye “One Day No Rice” tidak semudah itu dilaksanakan. Khususnya dalam pelaksanaan implementasi diversifikasi pangan. Ada perubahan kultur sosial yang mengakibatkan perubahan paradigma bahwa “seseorang yang makanan utamanya bukanlah nasi, patut dikasihani”.
Karena itu tidaklah aneh apabila kita membaca artikel tentang kemiskinan dengan penggambaran :
“Kehidupan keluarga itu sangat menyedihkan, sehari-harinya hanya makan nasi campur singkong”
Padahal apa yang salah dengan singkong? Mengapa makan singkong harus dikasihani? Apakah beras lebih bergizi? Atau sekedar lebih bergengsi? Bukankah makanan utama suku-suku di Indonesia sangat beragam? Mengapa terjadi kastanisasi antara si kaya dengan si miskin dan si bangsawan dengan kaum buruh hanya berdasarkan makanan pokoknya?

gambar: beragam pangan non beras (dok. Maria Hardayanto)

Padahal kandungan karbohidrat 100 gram beras hampir sama dengan talas atau singkong.
Akibat pergeseran sosial budaya itu pulalah maka kurva keanekaragaman pangan di Indonesia menjadi unik, Apabila pendapatan seseorang rendah maka dia akan mengonsumsi apa saja. Tetapi kalau dia sudah mempunyai pendapatan tetap dia akan memilih nasi.

Kemudian kalau pendapatannya naik lagi (kaya) maka konsumsinya akan lebih beragam lagi.
Kampanye nyata pernah dilakukan Ketua Tim Penggerak PKK Jabar, Netty Heryawan yang mengenalkan makanan pokok nonberas dengan dibantu Tim Pokja III Pemprov Jabar pada Juli 2011 silam. Makanan pokok nonberas tersebut adalah nasi singkong, nasi jagung, nasi sorgum dan nasi hanjeli. Yang dimaksudkan nasi disini adalah suatu penyajian masakan jagung/singkong/sorgum dan biji hanjeli yang menyerupai nasi beras. Adapun lauk pauknya sama saja dengan laukpauk untuk nasi beras.


Sayang sosialisasi “One Day No Rice” hanya sebatas dilingkungan pemprov Jabar sehingga dengungnya hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Padahal banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menyukseskan gerakan sehari tanpa nasi ini.

1.     Sosialisasi ke sekolah-sekolah khususnya full day school dimana anak-anak bisa mengenal keanekaragaman makanan pokok sejak kecil. Mengonsumsi makanan pokok yang beraneka ragam bersama teman-temannya merupakan cara terampuh untuk mengikis stigma bahwa nasi singkong adalah nasi untuk orang miskin. Salah satu negara yang berhasil melaksanakan diversifikasi pangan adalah Jepang. Mereka mengenalkan makanan pokok lain pada anak-anak SD sehingga konsumsi beras rakyat Jepang sekarang hanya 58 kg
/kapita/tahun padahal ditahun 1960-an konsumsi mereka masih 120 kg /kapita/tahun

2.    Kampanye tiada henti tanpa terpaku pada hari tertentu. Mengapa tidak menghimbau keanekaragaman pangan untuk perhelatan yang sering berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu? Nasi jagung yang disajikan bersama rendang, sayur pakis dan gulai pada pesta pernikahan anak pejabat A pasti akan merupakan kampanye terampuh daripada bercapek-ria mengajak ibu PKK masak di hari Rabu.

3.    Pengadaan bahan makanan pokok selain beras. Harusnya pemerintah tidak hanya kampanye tapi juga mendukung UMKM untuk menyediakan bahan makanan selain beras dan tepung terigu (ini sih impor ….. nggak lah yaaa….) yaitu tepung ganyong, tepung mokaf (modifikasi Cassava), tepung sukun dan lain lain. Karena bahan baku tepung pengganti untuk membuat bermacam kue tersebut sulit ditemukan di pasar. Animo masyarakat untuk keanekaragaman pangan sudah tinggi, tetapi sayang bahan bakunya tidak ada. Maka apa bedanya kampanye one day no rice dengan omdo (omong doang)?


Ide cemerlang, bahan baku mentah melimpah, masyarakat siap melaksanakan tapi tanpa implementasi yang direncanakan  tahap demi tahap dengan seluruh upaya berdasarkan hitungan yang cermat maka ide cemerlang tersebut hanya sekedar angin surga yang menjauh dan terlupakan.

**Maria Hardayanto**

Sumber data :
  • Kompas.com

  • The Jakarta Post

  • Bappenas.go.id





Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........