Tulisan Melly Amalia, Kail

http://proaktif-online.blogspot.com/2012/10/profil-perempuan-pejuang-lingkungan.html

Maria Hardayanto (Penggagas Komunitas Engkang-Engkang dan Komunitas  Sukamulya)


Adakah yang pernah mendengar kue brownies ganyong dan tumpeng dari singkong? Ganyong sendiri adalah nama jenis tanaman lokal asli Jawa Barat dan disulap menjadi kue oleh bunda Maria. Biasanya dalam setiap kegiatan yang diikuti oleh komunitas binaan bunda Maria selalu ada kue tersebut, sebagai alternatif penganan lain dalam hal ketahanan pangan. 

Komunitas Engkang-engkang dan Komunitas Sukamulya adalah kumpulan ibu-ibu yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan sekitar rumah, baik dalam pengelolaan sampah, pemanfaatan pekarangan rumah (urban farming) dan pembuatan jenis makanan dari bahan-bahan lokal. Walau komunitas ini belum genap dua tahun tapi secara perlahan melangkah maju dengan caranya sendiri. Siapakah yang menjadi penggagas komunitas ini?

“Bunda”, begitu sapaan akrab bu Maria diantara para aktivis lingkungan di Bandung. Meskipun sudah berusia 51 tahun tapi ibu empat orang anak ini selalu terlihat ceria dan penuh semangat. Kegiatan sebagai ibu rumah tangga mulai berkurang karena anak-anak sudah semakin besar dan kebanyakan mengambil pendidikan di luar kota, membangkitkan kembali gairah bunda untuk beraktivitas. Kalau kata orang, bunda itu seorang ibu yang sangat aktif dan tidak bisa diam. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang lain, bunda ikut arisan, pengajian dan terlibat dalam program PKK . Tapi bunda merasa masih ada yang kurang. Akhirnya ia mencari aktivitas lain, seperti menghadiri pertemuan zero waste community  dan kegiatan BILIC (Bandung Independent Living Center), dimana bunda bertemu dengan teman-teman difabel (istilah lain dari penyandang cacat). Dari situlah awal kebangkitan bunda menjalankan aktivitasnya. Untuk mendukung gerakannya, bunda banyak membaca literatur dari buku dan menjelajah dunia maya . Termasuk juga ide membuat brownies ganyong, ia dapatkan dari penjelajahannya tersebut.

Dalam membangun komunitas dampingannya, bunda mengalami pasang surut. Tapi itu semua tidak membuat bunda mundur. Mendukung lingkungan hidup secara nyata melalui pembuatan kompos skala rumah tangga, menanam sayuran segar dan membuat penganan non beras. Biasanya kalau ada program membuat kue, kue tersebut adalah hasil patungan anggota komunitas. Ada yang membawa telur, terigu, mentega, dsb. Jadi, program tersebut berbasis prinsip dari anggota, untuk anggota dan dinikmati oleh anggota pula. Juga mengolah hasil kebun yang hasilnya dikumpulkan untuk kepentingan komunitas.  Kesibukannya mendampingi komunitas Engkang-Engkang dan komunitas Sukamulya cukup menyita sebagian waktu bunda.

Kesenangannya mengulik dan mengupas suatu masalah ternyata sudah ada sejak duduk di bangku SMA. Termasuk keprihatinan bunda terhadap kondisi lingkungan kota Bandung. Misalnya masalah air PAM yang hanya keluar di malam hari dan orang-orang menunggui air tampungan sampai penuh. Juga adanya peristiwa Bandung lautan sampah di tahun 2005. Banyak orang yang memberi tanggapan, bahkan kritik pedas terhadap aparat pemerintah – betul?. Tapi agak berbeda yang ada dalam benak bunda. Beliau malah berpikir jangan-jangan sampah yang ada di TPA Leuwigajah dan menjadi bencana longsor itu salah satunya adalah sampah saya? Hal ini menjadi kegelisahan bunda. Sampai-sampai ia berlangganan salah satu media lokal Bandung karena ada tulisan dari (alm) bapak Otto Soemarwoto yang mengulas tentang gaya hidup – gaya hidup apa?. Bunda sangat termotivasi oleh tabloid yang mengulas tentang isu lingkungan dan event-event pameran lingkungan. Sampai akhirnya bunda mencari data lewat internet dan mendatangi satu persatu LSM lingkungan dengan melakukan diskusi dengan orang-orang yang dianggap bunda bisa menjawab kegelisahannya.

Orang-orang di sekitar komunitasnya banyak yang memberikan apresiasi bermacam-macam tehadap apa yang dilakukan bunda, tapi bunda tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain. Yang penting bunda bisa mengukur diri. Pada prinsipnya bunda ingin melakukan sesuatu hingga tuntas. “Makin saya menunda, maka lingkungan akan makin hancur”, begitu kata beliau.

Bunda mempunyai kesenangan tersendiri kalau bertemu dengan banyak orang. Dia merasa menemukan energi yang berbeda. Setelah diusut lebih jauh, ternyata dahulu bunda sempat demam panggung kalau berbicara di depan umum dan tidak tahu bagaimana cara membuat bahan presentasi, misalnya dalam bentuk power point. Akhirnya bunda minta diajarkan oleh  anak-anaknya dalam menuangkan semua ide yang ada ke dalam tulisan melalui blog. Sebelumnya bunda belum pernah membuat blog. Jadi, ia benar-benar belajar secara otodidak. Sampai sekarang ada enam blog yang dikelola bunda dengan genre yang berbeda, termasuk secara rutin menulis di blog bersama, Kompasiana. Tulisannya pun sering menempati posisi teratas karena temanya menarik dan mudah dipahami orang. Dari cerita bunda banyak pembelajaran untuk kita semua, bahwa kalau ada kemauan dan usaha keras, maka semua yang kita impikan akan tercapai.



(Melly Amalia)

Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........