Komunitas Perempuan Penggerak Sociopreneur

Perempuan multitasking : merawat anak, mengelola warung dan membuat kerajinan (dok. Maria G. Soemitro)



Berbeda dengan pria, perempuan mempunyai kebebasan memilih. Pilihan untuk bekerja atau tidak”. Pendapat Umar Kayam (1932-2002) tersebut ada benarnya. Khususnya untuk kelompok perempuan yang memiliki skill sehingga dia bisa memilih bekerja tanpa meninggalkan tugas utamanya mendidik anak dan mengurus rumah tangga. Tetapi bagaimana halnya dengan perempuan non skill yang ingin bekerja?

Kita lihat kasus Tari yang berjalan dengan penuh semangat. Kendati perutnya membesar karena usia kandungan sudah menginjak 9 bulan,  tidak menghalangi gerak langkah mengirim kue ke warung-warung dan kantin kecamatan. Hasilnya lumayan sekitar Rp 10.000 per hari atau sekitar Rp 250.000 - Rp 300.000 per bulan. Mengingat dia hanya mengerjakan di waktu malam (menyiapkan bahan kue) dan subuh (memasak kue sambil menyiapkan sarapan keluarga). Kemudian memasukkan kue ke warung, sorenya datang lagi untuk mengambil hasil penjualan kue. Praktis waktu yang digunakan tidak menghabiskan waktu yang dibutuhkannya untuk mengelola urusan rumah tangga.

Darimana Tari mendapatkan cara memasak kue dan jaringan pemasaran? Ternyata berasal dari komunitasnya, komunitas Engkang-engkang yang tinggal di bantaran sungai Cidurian. 
Mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki ikatan kekerabatan yang kental, maka social entrepreneurship atau kewirausahaan social berbasis komunitas adalah salah satu solusinya. Khususnya masyarakat yang tinggal di pemukiman padat yang masih menomorsatukan silaturahmi,  bukan masyarakat urban yang telah terkontaminasi  individualisme. Ciri-cirinya sangat mudah, biasanya ibu-ibu ini saling membantu. Mereka tidak sungkan berlari ke rumah tetangga untuk “meminjam” sedikit terasi karena kehabisan ketika sedang membuat sambal. ^_^

Kewirausahaan sosial tidak sekedar berwirausaha tetapi juga bertujuan mengatasi permasalahan yang terjadi di komunitas. Komunitas yang tinggak di pemukiman padat umumnya mempunyai masalah persampahan yang tidak terkelola dengan baik. Selain itu juga rentan terhadap mal nutrisi. Sebagai contoh foto berikut, walau menyuapi anaknya dengan nasi merah yang bergizi tapi lauknya adalah snack merek T** yang rendah gizi sehingga anakpun terancam malnutrisi. 
nasi merah berlaukpauk snack T**


Untuk mengatasi permasalahan tersebut para ibu anggota komunitas berpegang pada konsep lingkaran hijau komunitas   dimana setiap kegiatan saling terkait untuk menjamin keberlanjutan program sekaligus memberikan profit materi dan non materi bagi anggotanya.

Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan setiap minggunya menyangkut latihan membuat:
  • Reusable bag (tas pakai ulang) terbuat dari plastik kemasan dan kain perca. Selain berguna untuk membawa hasil kerajinan, reusable bag juga dijual di pameran-pameran yang diikuti komunitas.
  • Pangan non beras. Ramai pemberitaan mengenai "One Day No Rice" , sudah diimplementasikan  para anggota komunitas  jauh sebelumnya. Selain untuk menyiasati pemodal besar kuliner, juga untuk memaksimalkan hasil urban farming agar bernilai tinggi. Misalnya singkong sebagai pengganti beras dalam pembuatan tumpeng. Perkedel singkongpun ternyata lebih enak dan crispy, jauh lebih enak dibanding perkedel kentang yang banyak diimpor. Apabila ibu-ibu memasak maka bisa dipastikan anak-anak akan mencoba dan akhirnya terlalu kenyang untuk jajan makanan rendah gizi. Tidak berlebihan kiranya pernyataan bahwa di tangan para ibulah “nasib” anak bangsa. Sehebat apa anak-anak dilahirkan akan sangat bergantung baik/buruknya asupan nutrisi sang ibu dan anak balita mereka.
  • Urban farming  berguna untuk konsumsi makanan sehat sehari-hari. Hasil urban farming  juga dijual di warung yang menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur-sayuran. Atau dijual dalam pot karena rupanya membeli dan memberi tanaman sayur dalam pot menjadi trend penghijauan yang baru.
  • Komposting. Sampah dapur dikompos dalam kotak takakura sedangkan sampah sisa urban farming dikompos dalam komposter komunal. Kotak takakura dijual pada mereka yang enggan membuatnya. Hasil komposting selain bermanfaat bagi urban farming juga berguna untuk media terrarium. Terrarium dijual sebagai cendera mata.
  • Kerajinan. Hasil pemilahan berupa bekas kemasan plastik dibersihkan,  dilipat dan dikreasikan menjadi beragam produk kerajinan seperti tas, dompet, tempat tissue dan tikar.
Setiap anggota harus mengikuti semua pelatihan agar memahami proses dan kegunaan setiap kegiatan untuk kemudian bisa menentukan pilihan. Manfaat pertemuan yang diadakan setiap minggu selain untuk memperkuat silaturahmi juga sangat berguna untuk mengetahui kemajuan setiap anggota dan kegiatannya.

Setiap kasus dibuka bersama, dipelajari untuk diperoleh solusinya. Sebagai contoh kasus Tari diatas, dia adalah  ibu seorang anak berumur 10 tahun. Sebelumnya bekerja sebagai pegawai toko kue dan coklat. Terpaksa berhenti bekerja karena beberapa kali keguguran. Kemudian tertarik bergabung dengan komunitas dan menetapkan pilihan untuk membuat dan menjual kue.
Prosesnya dimulai dengan berlatih bersama anggota lainnya, kemudian berlatih sendiri membuat kue bagi Posyandu dan pengajian. Hingga akhirnya Tari berani memasarkan ke warung-warung dan koperasi kecamatan, mumpung warga sedang berduyun-duyun membuat e-KTP.

Modal awal peralatan yang dimiliki Tari hanyalah mikser. Karena itu dia mendapat pinjaman timbangan, loyang, kukusan dan kotak kue dari anggota komunitas lain yang menekuni bidang berbeda. Hal ihwal kotak kuepun muncul pada waktu pertemuan. Tari mengeluh kuenya keras dan tidak laku. Penyebabnya ternyata kue buatan Tari di simpan dalam kardus kue sehingga kue menjadi keras, biaya meningkat karena Tari harus membeli kardus tiap hari dan memproduksi sampah! Solusi diketemukan karena adanya pertemuan komunitas, tanpa itu Tari pastilah masih termangu-mangu bingung sendirian mendapatinya kuenya tidak laku.

Modal yang dipinjamkan pada Tari hanya senilai pembelian bahan baku satu adonan kue brownies ganyong dan satu adonan bolu kukus ubi. Bagaimana hasilnya? Lumayan. Terkadang hasil jerih payahnya ludes terjual, terkadang hanya laku separuhnya. Tetapi kegagalan merupakan pelajaran tersendiri untuk menambah jam terbangnya. Karena ketika mendapat banyak pesanan selain harus piawai membuat kue yang enak, Tari juga harus mahir mengatur waktu. Agar urusan rumah tangga beres, pemesan kue puas.

Tari dan anggota komunitas lain yang membuat dan menitipkan kue ke warung berkontribusi menyehatkan pola makan anak-anak di komunitas tersebut.Mereka tertarik pada kue brownies bertabur muisjes, bolu kukus berbecak ungu sehingga urung membeli jajanan bergizi rendah. Kue berbahan baku karbohidrat kompleks juga mengenyangkan dalam waktu yang relative lama dibanding karbohidrat sederhana sehingga anak-anak yang teradiksi jajan mengalihkan perhatiannya pada mainan.

Kelebihan konsep lingkaran hijau komunitas  yang diadopsi komunitas adalah adanya benang merah dengan program pemerintah. Karena pada dasarnya program pemerintah sangat bagus sebagai contoh 10 program PKK, tetapi karena komunitas-komunitas seperti ini belum terbentuk , pemerintah sulit mengimplementasikannya.

Ibu-ibu komunitas lainnya yaitu komunitas @sukamulyaindah sudah merasakan manisnya memperoleh penghasilan lumayan besar ketika mendapat pesanan dari pihak pemerintah kota Bandung sehubungan  dengan ketahanan pangan. Mereka menyajikan tumpeng non beras dan lauk pauknya. Tumpeng yang biasanya berbahan nasi beras diganti singkong . Perkedel singkong . Semuanya hasil urban farming termasuk daun kangkung dan kacang panjang yang diolah menjadi urap. Lauk pauk lainnya? Ayam rendang, balado telur, kering tempe dan kentang serta oseng cabe ikan asin. Hmmm………. Maknyus!!

Sedangkan makanan camilan dalam kardus kue juga berbahan non beras seperti brownies ganyong, combro, pie strawberry dan bolu kukus ubi.
Berapa hasil penjualan yang diterima ibu-ibu tersebut? Hasil penjualan berdasarkan pesanan seperti itu walau jarang tetapi lumayan. Dikerjakan bersama dan hasilnya dibagi rata. Misalnya ada pesanan 8 loyang brownies maka pengerjaan dilakukan oleh 2 orang. 1 adonan menghasilkan 4 loyang atau 48 iris. Biaya pembuatan 1 loyang kurang lebih Rp 30.000. Setiap irisnya dijual Rp 1.250 maka penghasilan per orang (2 x Rp 48 x Rp 1.250)- (2x Rp 30.000) = Rp 60.000. Lumayan bukan, karena itu baru hitungan 1 jenis kue.

Tidak hanya pangan non beras. Kegiatan urban farmingpun mendatangkan keuntungan materi dan non materi. Sang ibu bisa ber- urban farming di sore hari sambil menunggu suami dan anak-anak pulang. Hasil urban farming merupakan asupan gizi yang cukup dan sehat bagi keluarganya. Karena media tanam berasal dari kompos rumah tangga dan non-pestisida. Daun kangkung dan pak choy bolong-bolong tidak menjadi masalah, toh untuk konsumsi sendiri atau dijual di warung. Pembelipun teredukasi bahkan bisa membedakan sayuran hasil urban farming dengan sayuran dipasar. “Lebih renyah dan tidak mudah busuk”, katanya.
Yang paling fleksibel adalah waktu pembuatan kerajinan. Bisa dilakukan sambil menunggu anak di sekolah, sambil mengobrol dengan tetangga atau seperti yang dilakukan ibu Odang, spesialis pembuat kerajinan plastik dan kain dari komunitas Engkang-Engkang yaitu sambil menonton televisi. Maklum anak-anaknya sudah dewasa dan bekerja.

Berapa penghasilan pembuat kerajinan? Tidak bisa dipastikan karena kerajinan bukan kebutuhan primer. Tetapi yang membanggakan hasil karya mereka sudah “diekspor” ke luar negeri. Penyebabnya sederhana, penulis menitipkan hasil kerajinan mereka ke toko buku “Reading Light” di jalan Siliwangi, tempat ekspatriat kota Bandung menikmati buku dan menghargai hasil karya kreativitas anak bangsa Indonesia dan membelinya.

Pada bulan April 2012 silam, rombongan Dineke Stam dan sisters dari Belanda datang untuk mengunjungi makam ibu Dewi Sartika , mengundang ibu-ibu anggota komunitas dan memborong hasil kerajinannya. Sehingga “ekspor”lah kita ke Belanda ……. Yuhuuu ^_^

**Maria G. Soemitro **
13384039041389847422
Ekspor ke Belanda ^_^ (dok. Maria Hardayanto)
1338404605294834827
Beragam pangan non beras, bisa kan? (dok. Maria Hardayanto)
sumber :
  • Komunitas Engkang-Engkang, Kelurahan Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung (warga bantaran sungai Cidurian)

  • Komunitas Sukamulya, Kelurahan Sukagalih Kecamatan Sukajadi Kota Bandung

  • Yayasan Perempuan Kaisa Indonesia

 



Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........