Pengalaman Menjadi Narasumber SapaEdu


(SapaEdu : Acara Suara Edukasi Kemendikbud, khusus untuk anak-anak. Setiap hari Senin-Jum’at Pukul 07.00 - 09.00 WIB)

Menjadi narasumber seputar lingkungan memang tugas saya sehari-hari, tapi melakukannya untuk acara anak-anak ? Upz ……………nanti dulu, bagaimana tugas yang diinstruksikan panglima IDKita, Valentino?

Ini dia : Sebagai narasumber Sapa Edu - Untuk mengajarkan anak-anak, saat mereka ke sekolah, mereka bisa dengarkan lewat radio, gitu juga para bundanya.Tema “Yuk Peduli Lingkungan”. Sangat berbahagia saya, jika ibu berkenan untuk mengedukasi Bangsa ini melalui Radio resmi Pemerintah Kemen DIKBUD.

Anak-anak? Dan terbayanglah saya akan tubuh-tubuh mungil yang aktif. Baik di rumah, di sekolah maupun dalam kendaraan umum/pribadi. Tidak pernah berhenti bergerak, sebentar duduk,  menit berikutnya sudah menggoyang-goyangkan  tubuh atau berlari-lari.
Duh, mungkinkah mereka mau mendengarkan obrolan saya dan kak Anggi, penyiar acara Sapa Edu mengenai lingkungan ? Mungkinkah mereka mau menyimak? Tapi lebih tidak mungkin lagi bagi saya  untuk mundur. Karena mengkampanyekan menjaga lingkungan dari  hulu sudah menjadi misi saya sejak awal.  Bahkan begitu ambisinya, saya pernah menjadi pembicara siaran radio hingga pukul 23.00 malam. Tentu saja untuk segmen umum. Belum pernah menjajal segmen khusus anak-anak walaupun saya tahu selama ini kampanye untuk mereka seolah terlupakan.

Anak-anak adalah agen perubahan. Apabila kita menanamkan perilaku benar sejak dini maka bisa dipastikan mereka akan selalu mengingat dan menerapkan ajaran tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Itu pula yang menjadi penyebab saya mendampingi anak-anak TK Al Ihwan, TK AL Muslim dan Sekolah Bermain Padi sebelum akhirnya berkecimpung dengan anak-anak komunitas. Bentuknya interaksi, ketika ada anak yang menginterupsi, saya akan mendengarkan. Begitu juga apabila ada anak yang gelisah ingin bergerak-gerak, saya akan merangkulnya dan menanyakan apa yang dia ketahui seputar topik pembahasan.

Cara mengedukasi anak balita memang khas, diperlukan banyak peraga sederhana atau gambar, berinteraksi dan langkah nyata. Saya pernah membagikan pot-pot kecil sebagai tempat menanam biji buah yang mereka santap sebelumnya. Ternyata mereka lupa. Perlu bantuan ibu guru dan orang tua untuk melaksanakannya.
1351429087814272868
menghijaukan mesjid bersama anak-anak komunitas @sukamulyaindah (dok. Maria Hardayanto)
Karena itu saya bimbang ketika waktunya tiba. Terlebih hingga Rabu, tanggal 23 Oktober 2012 pihak radio belum menghubungi untuk memeriksa atau apapun yang berhubungan dengan siaran on-air esok paginya. Mengingat ini pembicaraan jarak jauh, Jakarta-Bandung. Bagaimana apabila suara saya terdengar tidak jelas atau roaming atau terputus-putus?

Untung kegelisahan saya terjawab pada pukul 06.30 hari Kamis, 25 Oktober 2012. Setengah jam sebelum on air, kak Anggi, pembawa acara SapaEdu menelfon dan mengobrol seputar kegiatan saya dan apa yang akan dibahas nanti. Walau terjadi sedikit kebingungan ketika tiba-tiba kak Anggi menanyakan “rumah hijau” yang saya tekuni. Hmmmmm…………… mungkin maksudnya adalah penghijauan. Karena apabila yang dimaksud rumah hijau adalah green building jelas bukan untuk konsumsi anak-anak.

Apa saja isi acara? Sebagian besar berisi lagu, diselingi nasehat kak Anggi seputar lingkungan. Sedangkan waktu untuk saya adalah pada pukul 08.00 hingga pukul 09.00 terdiri dari 3 segmen. Segmen pertama sesudah perkenalan adalah berbagi pengalaman seputar menjaga lingkungan dan menerangkan berbagai macam sampah plastik. Tentu saja sesuai prinsip reduce, reuse dan recycle (3R), minimalisir sampah harus diutamakan. Jadi jangan bicara sampah dulu karena pengelolaannya sulit. Hindari  sebisa mungkin dengan membawa makanan dan minuman dari rumah.

Sewaktu harus menerangkan makanan ringan inilah tiba-tiba saya teringat tidak boleh menyebut merek. Karena biasanya dengan mudah saya menerangkan produk C* yang terkenal tapi tidak bergizi termasuk bekas kemasannya yang sulit dipisahkan.
Waduh bagaimana ini menerangkan lapisan alumunium yang biasanya dengan mudah saya tunjukkan bahwa kemasan berlapis tersebut membantu camilan berbunyi kriuk-kriuk tapi beratus tahun kemudian baru bisa terurai di alam.

Juga ketika harus menerangkan bahwa styrofoam mempunyai jangka waktu tak terhingga alias tidak bisa hancur di alam. Susah-susah gampang karena biasa menerangkan seraya berekspresi dan menggerakkan anggota tubuh sehingga anak-anak bisa mendengarkan dengan tekun.

Segmen kedua  adalah tentang memanfaatkan sampah. Tentu saja perioritas utama adalah memisah sampah karena jumlah sampah organik di Indonesia mencapai 70 % dari total sampah. Pemisahan dari awal tidak hanya akan membantu pengurangan sampah kota tetapi juga membantu mengubah sampah menjadi barang berguna seperti kompos, biji plastik, kerajinan plastik dan kertas.

Sedangkan segmen ketiga, tentang menjaga kebersihan lingkungan. Cara pandang  yang harus berubah, dari sekedar membuang sampah pada tempatnya menjadi melestarikan lingkungan dengan tidak nyampah. Yaitu memulai dari rumah dengan membawa reusable product seperti misting dan tumbler (tempat minum) serta memanfaatkan barang bekas. Misalnya bekas plastik sebagai tempat menanam biji buah akar kangkung atau akar bayam.
Sebetulnya misi yang ingin saya sampaikan adalah mengembalikan rasa kepedulian terhadap lingkungan  yang mulai hilang di kawasan perkotaan. Kepekaan rasa kita hilang ketika melihat tukang sampah yang membawa sampah begitu banyaknya seperti gambar berikut.
13514276762027954725
tukang sampah harus menanggung beban kita (dok. Maria Hardayanto)
Terkadang mereka melakukannya di tengah hujan deras. Kepekaan kita juga mulai menghilang melihat sampah berserakan bahkan berkontribusi membuang sampah sembarangan. Seolah itu adalah tugas pegawai kebersihan semata. Bukan tanggung jawab si pembuang sampah.
13514277821022141493
sampah di jalan umum di kota Bandung (dok. Maria Hardayanto)
Anak-anak adalah lembaran putih polos. Warnanya akan merah apabila kita membawa tinta merah. Mereka tidak akan mempedulikan masalah lingkungan hidup apabila di usia dini mereka beranggapan semua bisa dibeli uang.

Tanaman bisa dibeli dengan uang, permasalahan sampah diselesaikan dengan uang proyek demikian juga styrofoam yang dianggap dapat terselesaikan dengan diketemukannya mesin penghancur. Padahal masalah lingkungan bukan sekedar sakit pilek yang sembuh ketika minum obat. Masalah lingkungan adalah masalah lifestyle. Yang tidak dapat diperbaiki apabila tidak ada kemauan mengubahnya.

Rekaman onair selengkapnya dapat di dengar berikut ini.

**Maria Hardayanto**





Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........