Yuk, Nabung di Bank Sampah


13675520401045807560
Bank Sampah,mengumpulkan, membawa ke pengepul, mencatat (dok. Maria Hardayanto)

Bak menjilat ludah sendiri, itulah yang saya rasakan ketika mendirikan Bank Sampah bersama dua komunitas dampingan di Bandung. Sebelumnya saya menolak karena kuatir akan memicu meningkatkan konsumsi produk kemasan oleh anggota komunitas sehingga jumlah sampah semakin banyak. Tidak sesuai prinsip 3R yang pertama yaitu: reduce atau mengurangi sampah.

Pertimbangan lainnya, Bank Sampah membutuhkan:
  • Tempat penampungan sampah anorganik. Hampir mustahil diadakan di perumahan padat penduduk karena mereka sudah bersempit-sempit ria dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
  • Sumber daya manusia. khususnya untuk pencatatan yang lumayan ribet karena banyaknya jenis sampah anorganik. Minimal ada 3 jenis plastik (bekas minuman, plastik bening, kresek), kaleng, kertas duplek, kertas kardus, kertas koran, botol kaca dan lain-lain. Semuanya tentu harus diisi per kolom sesuai berat sampah disetor setelah sebelumnya ditimbang satu persatu.
Masalah yang cukup memusingkan bukan? Meminta pengurus komunitas untuk tertib mengisi buku stok barang dan kas saja sudah cukup sulit, apalagi ditambah pembukuan Bank Sampah yang njlimet, pastinya bakal pusing tujuh keliling.

Tapi menyerah tanpa terlebih dulu mencoba rasanya terlalu cengeng. Selain itu rupanya kegiatan komunitas harus ditujukan pada ‘pemadaman api’  dihilir yaitu kebiasaan warga yang sudah kadung nyampah. Bagaimana pemecahan masalah agar timbul lifestyle baru? Itulah tantangannya. Untunglah aktivitas anggota selalu dinamis, kegiatan baru senantiasa dicari dan diadakan agar pertemuan tiap minggu tidak membosankan. Karena itu pada tahun 2012, saya mengajak mereka mencatat dan menjual sampah anorganiknya. Cukup lama berlangsung, sekitar 6 bulan sebab kegiatan bank sampah tidak mungkin saya lakukan sendiri di rumah. Ini kegiatan komunitas, jadi saya hanya memperhatikan dan melakukan wawancara sambil melakukan kegiatan lainnya.

Hingga akhirnya saya menyimpulkan bahwa hasil Bank Sampah bisa menjadi salah satu solusi penambah uang kas komunitas. Sebelumnya uang kas didapat dari uang kencleng atau uang patungan para anggota. Jumlahnya tidak banyak karena sesuai moto yaitu: seikhlasnya, ada yang memberi Rp 1.000, Rp 2.000 atau malah tidak sama sekali sehingga total uang kas bertambah Rp 5.000 - Rp 10.000 per minggunya. Sangat lumayan untuk biaya operasional, apalagi jika ditambah dari bank sampah.

Adanya Bank Sampah ternyata menarik minat warga masyarakat lainnya untuk berpartisipasi. Selama ini mereka sudah melihat kegiatan positif anggota komunitas tapi enggan terlibat dan atau sibuk mengurus warung. Ada juga yang beralasan sibuk merawat bayi walaupun kegiatan sambil membawa anak sangat dianjurkan agar kegiatan positif menular ke anak dengan sendirinya.

Tetapi memilah sampah dengan bujukan nabung sampah rupanya manjur. Mereka mau memilah dan mengumpulkan sampah anorganik di rumah masing-masing untuk kemudian disetorkan pada pengurus komunitas di hari pertemuan. Anggota komunitas Engkang-engkang bertemu setiap hari Selasa sedangkan anggota komunitas @sukamulyaindah setiap hari Rabu. Keduanya memulai aktivitas pukul 10.00 pagi hingga selesai.

Karena tidak memiliki bangunan untuk menyimpan sampah, sebelum memulai kegiatan utama, kami berbondong-bondong menuju lapak pengepul untuk menimbang sampah anorganik yang telah dikumpulkan selama seminggu. Setiap keresek/ karung berisi sampah anorganik dicatat sesuai nama pemiliknya. Ketika itulah saya mengetahui bahwa pencatatan ternyata tidak se-ribet yang dibayangkan. Sampah plastik umumnya disatukan dan dinamakan emeran. Para anggota komunitas juga mendapat pengetahuan bahwa styrofoam dan plastik bekas camilan/bekas kopi yang berlapis alumunium ternyata tidak berharga/tidak laku dijual.

Sampah anorganik lainnya yang banyak dijual adalah kaleng, botol kaca, kertas duplek dan kardus. Ada penabung yang mencapai ribuan rupiah, ada pula yang hanya Rp 100, bahkan Rp 50. Semua dicatat dalam pembukuan Bank Sampah. Dirapikan sesampainya dibalai pertemuan. Komunitas Engkang-engkang menggunakan balai RW sedangkan komunitas @sukamulyaindah menggunakan madrasah sebagai tempat berkegiatan: rapat, persiapan komposting, kerajinan, membuat pangan lokal dan pencatatan Bank Sampah.
Hasil pencatatan dari buku di pindahkan ke buku tabungan yang dimiliki setiap anggota. Hal ini untuk memudahkan anggota mengetahui jumlah tabungannya. Buku yang digunakanpun cukup sederhana dan mudah didapat di toko bahkan warung karena anak-anak TK dan SD rupanya harus menabung di sekolahnya. Harganya murah, hanya Rp 500/buku.

Hikmah adanya Bank Sampah ternyata cukup besar. Kami menjadi pemulung ketika berbondong-bondong ke pengepul karena mata dan tangan ‘gatal’ ketika melihat sampah anorganik berserakan di jalan yang kami lalui.

Ibu-ibu bercerita bahwa anak mereka selalu membawa pulang plastik bekas makanan/minuman dan memasukkan ke tempat yang sudah disediakan. Anggota keluarga lainnya ikut berpartisipasi mengumpulkan sampah anorganik bekas konsumsi mereka maupun yang tercecer dijalan. Proses pemilahan terjadi dengan sendirinya dari hulu (rumah tangga) membentuk suatu perubahan lifestyle secara perlahan. Sesuatu yang sangat tidak saya duga.

Kami mendapat tambahan pengetahuan mengenai jenis sampah anorganik apa saja yang bisa ditampung dan dijual. Termasuk pecahan beling kaca yang semula dianggap tidak laku, padahal jika dimasukkan ke tempat sampah berpotensi melukai tukang sampah atau siapapun yang sedang membereskan sampah.
Hikmah lain terbentuknya Bank Sampah adalah terbentuknya koperasi simpan pinjam. Prioritas peminjam adalah anggota Bank Sampah, mereka bisa meminjam untuk modal warung atau kebutuhan mendesak lainnya. Bunga ditetapkan bersama yaitu 10 % dari total pinjaman. Tetapi karena uang tersebut untuk kas anggota yang artinya untuk memperbesar jumlah dana pinjaman maka mereka tidak berkeberatan.
Tetapi hikmah terbesar adalah kepedulian warga masyarakat mengelola sampah. Mereka, tua muda kaya miskin berpartisipasi memilah sampah dan perlahan-lahan mengikis stigma bahwa sampah selain kotor juga hanya layak diurus oleh strata masyarakat terendah.

Tanpa terasa kegiatan Bank Sampah sudah seperti layaknya bank konvensional yaitu ada dana terkumpul dan ada sejumlah uang yang digunakan untuk simpan pinjam hingga berputar , menambah jumlah kas. Jangan ditanya besarannya karena tentunya sangat kecil jika dibandingkan bank konvensional pada umumnya. Tetapi kegiatan oleh anggota, dari anggota dan untuk anggota ini sungguh melegakan dan membanggakan hingga saya teringat pesan pak Supardiyono Sobirin, pakar DPKLTS  yang menyitir ucapan Lao Tze:

Pergi dan temuilah masyarakatmu,
Hiduplah dan tinggallah bersama mereka,
Cintai dan berkaryalah dengan mereka,
Mulailah dari apa yang mereka miliki,
Buatlah rencana dan kerjakan rencana itu,
Dari apa yang mereka ketahui,
Sampai akhirnya ketika pekerjaan usai,
Mereka akan berkata:
“Kami yang telah mengerjakannya!”.
**Maria Hardayanto**



1367552867152752750
menuju pengepul untuk menimbang sampah (dok. Maria Hardayanto)
13675529411171638797
berbondong-bondong menuju bank sampah (dok. Maria Hardayanto)

Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........