Melek Finansial Bersama Bank Sampah



 
"Kantor"Bank Sampah Sukamulya Indah (dok. Maria G. Soemitro)

“Mah, minta uang mah. Untuk jajan, mah,” rengek Noval pada neneknya. Mendengar rengekan cucunya, kening ibu Laksmi berkerut, serentetan omelan terlontar. Tapi akhirnya tangan ibu Laksmi bergerak mengambil selembar dua ribuan dari tumpukan uang didepannya. Tanpa mempedulikan kemarahan sang nenek, Noval menerima uang tersebut dan melesat berlari untuk jajan. Ah, dasar anak-anak.

Kejadian tersebut nampaknya biasa saja. Seorang cucu merengek uang jajan dan neneknya memberikan sambil mengomel. Yang tidak biasa adalah uangnya. Uang yang diberikan sang nenek berasal dari kas Bank Sampah yang anggotanya sedang berkumpul. Ibu Laksmi ditunjuk sebagai ketua oleh pak RW. Rupanya ibu Laksmi mempunyai kebiasaan mencampur-baurkan pos keuangan dengan slogan :”Ah pinjem dulu, toh hanya sedikit.” 

Awalnya hanya sedikit, lama-lama menjadi bukit. Jika tidak dicegah, akan terjadi *bukit masalah* kelak. Sehingga bukan tak mungkin Ibu Laksmi akan kesulitan mengembalikan uang dan hubungan silaturahmi antar anggota akan terganggu. Terbelenggu kultur,  sesama anggota masyarakat merasa enggan menegur, terlebih jika yang berbuat kesalahan berusia lebih tua dan atau memiliki jabatan. 

Kejadian yang sama sering terjadi pula di kelompok arisan. Biasanya seseorang terpilih menjadi ketua sekaligus bendahara. Jika yang bersangkutan tidak amanah maka keberlangsungan arisan terancam, silaturahmipun terputus. Padahal proses arisan lebih sederhana dibanding Bank Sampah, yakni mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati bersama, nama anggota diundi, seorang anggota dinyatakan sebagai pemenang, uang diserahkan dan … selesai. Berkumpul lagi bulan depan tanpa ada beban.

Beda halnya dengan Bank Sampah. Dalam proses kegiatan Bank Sampah ada uang yang tersimpan/ditabung dan ada manfaat jangka panjang. Dicetuskan oleh Bambang Suwerda, Bank Sampah merupakan salah satu cara untuk mengubah gaya hidup masyarakat. Masyarakat diajak mengubah paradigma. Sampah yang awalnya dianggap kotor dan harus dibuang jauh-jauh, kini dipilah, ditimbang dan dijual. Jumlah hasil penjualan biasanya kecil sehingga sebaiknya ditabung dengan dicatat dalam buku tabungan yang dimiliki setiap anggota. Setelah periode tertentu, anggota Bank Sampah dipersilakan untuk mencairkan uangnya. 
Sampah anorganik hasil pemisahan dan pengumpulan anggota Bank Sampah (dok. Maria G. Soemitro)


Pembentukan Bank Sampah sesuai  Peraturan MenLH Nomor 13 tahun 2012 yaitu merupakan kegiatan social engineering dalam  membina kesadaran kolektif masyarakat untuk memulai memilah, mendaur-ulang, dan memanfaatkan sampah dengan mempertimbangkan keberadaan sampah yang mempunyai nilai jual.

Rekayasa sosial melalui pembentukan Bank Sampah membuatnya berbeda dengan bank konvensional yang bertujuan meningkatkan keuntungan dengan menetapkan riba. Karena jika itu terjadi maka warga masyarakat akan berlomba-lomba memproduksi sampah sehingga target minimalisir sampah dihulu akan terancam gagal.

Bank Sampah lebih mirip Bank Syariah. Sesuai perintah Allah yang tertulis dalam QS Al Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan/akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Juga QS Al Maidah ayat 2:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya 

Bank Sampah bukanlah pemilik uang yang disetorkan anggotanya. Uang hanya dikumpulkan dan dikelola pengurus Bank Sampah yang bertindak selaku operator. Setiap rupiah yang terkumpul dilaporkan secara periodik, kemudian dimusyawarahkan pengelolaannya. Apakah hanya ditabung atau menjadi modal koperasi? Umumnya tujuan para anggota menabung di Bank Sampah untuk kesejahteraan bersama walau setiap anggota memiliki kebutuhan berbeda. Misalnya biaya pendidikan, biaya kesehatan, modal berdagang dan lain lain. Setiap peminjaman uang dikenakan uang jasa yang jumlahnya disepakati bersama.

Mengingat begitu banyaknya kegiatan Bank Sampah, kepercayaan menjadi fondasi utama. Kemudian pengutamaan membangun dinding kepercayaan yaitu proses transparansi kegiatan seperti penerimaan hasil penjualan, uang jasa yang disepakati, hingga laporan keuangan. Setiap anggota Bank Sampah berhak menerima laporan keuangan secara berkala. Walaupun mereka meremehkan laporan tersebut tapi pengurus tetap berkewajiban melaporkan, selain untuk mengedukasi warga masyarakat agar melek finansial juga sebagai tolok ukur keberhasilan operasional Bank Sampah.

Kisah seperti dituturkan di awal merupakan salah satu contoh betapa warga masyarakat sering meremehkan uang yang nampak sedikit. Padahal masalah utama bukan sekedar besar kecilnya  uang tapi kepercayaan yang dipertaruhkan. Karena itu agar kejadian sama tidak terulang, sebagai pendamping pengurus bank sampah, saya mengajak pengurus untuk menyatukan langkah agar bisa seirama lagi dan forum memutuskan: 
  • Sesuai jabatan, Ketua Bank Sampah tidak menerima dan mengeluarkan uang. Tugasnya sudah cukup berat yaitu bertanggungjawab mengelola semua divisi. Setiap rupiah yang masuk dan keluar langsung dipegang bendahara sebagai penanggungjawab. Bendahara berhak bertanya dan menagih jika ada pengurus lain yang diduga memegang uang kas.
  • Bendahara 1 mencatat setiap penerimaan dan pengeluaran uang.
  • Bendahara 2 menyimpan uang kas Bank Sampah, pengeluarannya harus seijin Bendahara 1 dan Ketua Bank Sampah

Indikator terjaminnya keberlangsungan Bank Sampah bukan berapa jumlah uang penjualan sampah yang berhasil dikumpulkan, melainkan pembukuan yang lengkap dan akurat. Karena itu, pelatihan finansial lengkap dengan stimulasinya sangat diperlukan jika suatu kelompok masyarakat hendak membentuk Bank Sampah.

Keberadaan bangunan Bank sampah juga bukan merupakan faktor penentu. Terlebih ketika dibenturkan dengan adagium: “makin padat jumlah penduduk di suatu kawasan, timbulan sampah semakin banyak”, maka sulit sekali menemukan bangunan kosong untuk operasional. Kesulitan semakin kompleks karena banyak pemulung dan tukang rongsok yang berlalu lalang menawarkan jasa. Mereka membantu ibu rumah tangga membersihkan sampah gudang dan sampah jalanan. Tanpa aturan yang rumit. Tapi tentu saja tanpa nilai tambah lainnya. Bahkan mungkin, uang hasil penjualan sampah langsung terbakar menjadi abu rokok sang kepala keluarga atau meleleh bersama permen jajanan sang anak. Sementara jika dikumpulkan, uang tabungan hasil penjualan sampah bisa dimanfaatkan menjadi modal dan atau uang premi asuransi. 

Ditengah begitu banyaknya masalah, warga masyarakat yang mulai peduli dan berniat membentuk Bank sampah harus mencari akal.  Komunitas Bank Sampah Sakura Cigadung Bandung dan Bank Sampah Sukamulya Indah Bandung menyiasati ketiadaan bangunan kosong dan sempitnya waktu berkumpul dengan: 
  • Menggunakan rumah salah seorang pengurus secara bergantian setiap minggunya untuk kegiatan mengumpulkan sampah dan pencatatan.
  • Kegiatan pemilahan sampah dikerjakan  dirumah masing-masing dengan tujuan agar setiap anggota keluarga terbiasa memisah sampahnya.
  • Sekali dalam seminggu (sesuai hari yang disepakati) pengurus dan anggota bertemu untuk mengumpulkan sampah anorganik dari setiap rumah tangga dan membawanya ke lapak rongsokan untuk dijual.
  • Hasil penjualan direkap dan dibuat laporan berkala untuk dilaporkan pada anggota Bank Sampah

Melek finansial dan disiplin mengerjakan langkah demi langkah merupakan jurus jitu keberhasilan Bank Sampah. Walaupun visi misi amatlah penting tapi jangan menjadi hambatan. Karena itu anggota dan pengurus harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Tujuan. Bukan target yang idealis seperti menyusutnya timbulan sampah tapi target yang mampu diraih. Umumnya warga masyarakat tertarik bergabung jika tujuan Bank sampah adalah untuk kesejahteraan bersama.
  2. Kejujuran. Kejujuran merupakan modal awal kepercayaan karena itu setiap rupiah yang diterima dan dikeluarkan harus dilaporkan dengan jujur dan terperinci. 
  3. Tidak menganggap remeh. Selama ini sampah dianggap remeh, maka informasi jumlah rupiah yang dihasilkan dari penjualan sering diabaikan. Seorang penyetor sampah bisa saja beranggapan jumlah setoran sampahnya amat banyak sehingga berharap saldo tabungannya akan semakin banyak pula. Kenyataannya tidak selalu seperti itu, ada beberapa kriteria sampah yang berharga tinggi diantaranya sudah bersih dan terpilah. Jika masih tercampur maka harganya ‘jatuh’, masuk dalam klasifikasi emeran (produk sampah campuran). 
  4. Disiplin.  Ingatan manusia terbatas, agar tidak terkena fitnah maka pengurus Bank Sampah wajib mencatat setiap transaksi dengan terperinci. 
  5. Kepercayaan. Dengan sendirinya kepercayaan akan muncul jika pengurus aktif menginformasikan dalam bentuk percakapan sehari-hari dan laporan akhir (triwulan serta akhir tahun). 
  6. Transparansi. Komunikasi tidak berlaku satu arah, tapi banyak arah, antara anggota Bank Sampah, pengurus serta anggota masyarakat lainnya. Karena semakin banyak anggotanya maka diharapkan kegiatan pemilahan sampah akan meluas dan berdampak positif secara maksimal. 
  7. Laporan siap diaudit. Karena disiplin mengerjakan setiap transaksi maka bisa dipastikan laporan siap diaudit. Anggota Bank Sampah juga mendapat laporan setiap tahun walau umumnya mereka hanya melipat kertas laporan dan tidak membacanya.

    Mungkin nampak sepele. Semua orang bisa mencatat, membukukan dan melaporkan tapi jika prosesnya tidak dikerjakan maka akan terlupa dan timbul prasangka buruk. Terlebih dalam mengelola keuangan milik masyarakat. Walau berasal dari sampah jika telah berubah menjadi rupiah dan terkumpul untuk waktu yang lama maka nilainya berubah menjadi jutaan rupiah.

    Komunitas  Bank Sampah Sukamulya Indah Kecamatan Sukajadi sudah membuktikan. Uang hasil pengumpulan sampah tidak hanya ditabung tetapi juga dikelola dalam koperasi simpan pinjam. Semua tercatat dengan rapi dan hasilnya dikenyam bersama. Ada yang meminjam untuk biaya masuk sekolah anaknya, ada pula yang memerlukan untuk biaya opname rumah sakit dan beberapa lainnya meminjam untuk modal berdagang.

    Atas keberhasilan tersebut, mereka mendapat pinjaman uang dari  LPM setempat sebesar Rp 2.000.000 (dua juta rupiah).  Mungkin bukan jumlah yang besar, tapi pemberian pinjaman dari lembaga lain merupakan suatu penghargaan kepada  komunitas Bank Sampah Sukamulya Indah atas keberhasilannya mewujudkan rekayasa sosial dalam mengelola sampah.
    Prosesnya dengan mengajak masyarakat agar melek finansial dan hasilnya untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

    sumber :

     
    berduyun-duyun menjual sampah anorganik (dok. Maria G. Soemitro)


anak-anak mengikuti ibunya ke Bank Sampah (dok. Maria G. Soemitro)

 
pencatatan hasil penjualan sampah (dok. Maria G. Soemitro)



Comments

Popular posts from this blog

Perkedel Singkong Yang Yummyyyy........